I.
Pendahuluan
Usaha Kecil dan
Menengah atau disingkat dengan UMKM adalah istilah yang mengacu ke jenis usaha
yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Di Indonesia, UKM
adalah tulang punggung ekonomi Indonesia karena menyumbang 60% dari PDB dan
menampung 97% tenaga kerja.
Dan juga perdangan luar
negeri yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan
meningkatkan ekspor sebagai penghasil devisa guna membiayai impor. Impor
meningkatkan jumlah produksi barang dan jasa yang dihasilkan sehingga memacu
perekonomian. Di sisi lain juga merupakan alat yang ampuh untuk mempertahankan
nilai tukar (kurs) yang kompetitif guna menunjang ekspor serta dapat mengatasi
masalah di bidang ketenagakerjaan.
II.
Pembahasan
UMKN
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM
terhadap perekonomian cukup besar mencapai 61.41%, sementara penyerapan tenaga
kerja UMKM setidaknya mendominasi hampir 97% dari total tenaga kerja nasional.
Jumlah UMKM telah mencapai 60 juta unit. Berdasarkan data BPS per Agustus 2017
pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di kuartal II-2017
sebesar 2,5%. Dan pencapaian pertumbuhan di kuartal I-2017 menurun sebesar
6,63%. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kontribusi sektor ini terhadap produk
domestik bruto (PDB) meningkat dari 57,84% menjadi 60,3% . Pun dengan serapan
tenaga kerja, meningkat dari 96,99%
menjadi 97,22% pada periode yang sama. Dan kondisi UMKM di Indonesia ini
masih banyak kendalanya, yaitu di antaranya adalah ketakutan berada di zona
tidak nyaman, takut terlihat berbeda, takut terhadap reaksi yang tak
diinginkan, takut melangkah untuk berubah, dan takut berkonfrontasi dengan
orang lain. Dengan begitu cara untuk merubah pola pikir para pekerja UMKM ialah
dengan melakukan workshop atau bimbingan dengan para ahlinya, serta juga
menyadarkan mereka bahwa UMKN ini sangat membantu perekonomian Indonesia dan
juga pajak dari UMKM ini bisa membuat banyak program, misalnya pendidikan dan
kesehatan gratis.
Perdagangan
Luar Negeri
Perdangan luar negeri
atau Internasional pada tahun 2018 diprediksi akan tumbuh sekitar 3,6% atau
mengalami peningatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 5,2%. Dan
beberapa negara yang menunjukkan peningkatan ekonomi adalah negara-negara yang
terletak di kawasan Asean , walaupun peningkatan yang terjadi tidak terlalu
signifikan, jika dibandingkan dengan tahun 2017 ini dari 5,1% menjadi 5,2%.
Jika
dilihat per sektor, ekspor Indonesia pada Desember 2017 didukung migas US$ 1,51
miliar, pertanian US$ 280 juta, industri pengolahan US$ 10,33 miliar, dan
pertambangan dan lainnya US$ 2,68 miliar. Ekspor non migas menyumbang 89,79%
dari total ekspor Desember 2017. Andil ekspor non migas terbesar di sepanjang
2017 adalah lemak dan minyak hewan nabati US$ 22,97 miliar atau 15,01% , lalu industri
74,10%, tambang 14,39%, migas 9,33%, dan pertanian 2,18%. Kinerja perdagangan dibulan desember 2017
mencatatkan diefisit sebesar USD 0,27 miliar. Defisit tersebut bersumber dari
defisit perdagangan migas USD 1,04 miliar ditambah surplus perdagangan nonmigas
sebesar USD 0,77 miliar.
Menurut
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebutkan bahwa
ketergantungan Indonesia terhadap impor menjadi salah satu alasan melemahnya
niai tukar rupiah terhdapa dollar AS. Ketergantungan Indonesia terhadap impor
bisa memperparah depresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu angka impor yang
tinggi juga ikut membayangi inflasi. Besarnya impor bahan baku atau bahan
konsumsi sangat tinggi, bahkan pada 2017 rasionya mencapai 91,23%, jika pada
tahun depan besarnya impor barang konsumsi masih terjadi maka nilai rupiah akan
melemah dan terus menurun dan juga berdampak tingginya nilai barang konsumsi,
makanan, minuman serta BBM akan membuat daya beli melemah.
III.
Penutup
UMKM menjadi peningkat
perekonomian Indonesia dengan mengkostribusikan dengan pendapatan sebesar 61.41% dan penyerapan tenaga
kerja UMKM setidaknya mendominasi hampir 97% dari total tenaga kerja nasional.
Jumlah UMKM telah mencapai 60 juta unit. UMKN ini sangat membantu perekonomian
Indonesia dan juga pajak dari UMKM ini bisa membuat banyak program, misalnya
pendidikan dan kesehatan gratis.
Perdagangan luar negeri
dapat berdampak negatif dan positif, jika dilihat dari ekspornya Indonesia pada
tahun 2017 didukung oleh sektor migas yang menyumbang sebesar US$ 1,51 miliar
dan dari non migas lemak dan minyak hewan nabati menyumbang sebesar US$ 22,97
miliar. Dan dampak negatif dari impor ialah ketergantungan Indonesia terhadap
impor menjadi salah satu alasan melemahnya niai tukar rupiah terhdapa dollar
AS. Ketergantungan Indonesia terhadap impor bisa memperparah depresiasi nilai
tukar rupiah dan menyebabkan kenaikan harga barang konsumsi dan lain-lain lalu
melemahnya daya beli masyarakat.
IV.
Daftar Pustaka
http://www.kemendag.go.id/id/news/2018/01/17/ekspor-2017-meningkat-neraca-perdagangan-surplus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar